Saat Si Hijau Sudah Berubah Menjadi Hitam

Saat bernafas saat ini, kita mungkin tak merasakan ada hal yang janggal dengan udara yang kita hirup. Tetapi apakah kita tak merasa kalau sekarang kita semua berada dalam ruangan yang dipenuhi dengan asap?

01

Gambar 1. Peta sebaran titik hotspot di Riau

          Sekitar 1 September 2015 yang lalu, kabut asap tebal mulai memberikan dampaknya, terutama bagi penduduk kota Pekanbaru. Jarak pandang tak sampai 300 meter! Coba kita bayangkan betapa hampanya kehidupan disana. Bahkan kabut asap tersebut juga sudah mulai terasa memasuki rumah-rumah penduduk dan perlahan mulai mengganggu kesehatan penduduk Pekanbaru. Beberapa penduduk ada yang protes mengenai lambatnya pemerintah kota membuat keputusan agar segera meliburkan kegiatan belajar mengajar karena rentannya anak-anak untuk terkena ganggung pernafasan.

          Semakin hari asap kian menebal hingga menurunkan jarak pandang menjadi 200 meter dan papan ISPU menunjukkan kualitas udara “tidak sehat”. Beberapa penduduk yang rumahnya telah banyak dimasuki kabut asap mengambil tindakan cepat dengan menginap di hotel karena sudah tidak tahan dengan gejala pusing, tenggorokan sakit saat menelan air liur dan mata perih yang diakibatkan kabut asap tersebut.

Gambar 2,3,4 & 5. Suasana Kota Pekanbaru yang tengah dilanda kabut asap (Sumber: blog.act.id)

          Koalisi Penyelamat Sumber Daya Alam (PSDA) Riau, menyebut data hotspot Jikalahari sepanjang Januari-Agustus 2015 menunjukkan, total 5.869 titik api di lahan HTI (Hutan Tanaman Industri), sawit dan hutan lindung. Semua itu, di lahan gambut.  Dari 5.860 hotspot 4057 di gambut. “Artinya karhutla di konsesi HTI dan sawit serta di kawasan konservasi yang dirambah dan diokupasi cukong sawit,” kata Woro Supartinah dari Jikalahari. Hari itu, Koalisi merilis laporan berjudul “Menuntaskan Asap Riau, Melalui GN-PSDA KPK” di sebuah hotel. Saat acara, asap masuk ke lobi hotel.

Menurut Koalisi, kala deforestasi-degradasi terstruktur, sistematis dan masif di Riau melalui produk hukum menguntungkan korporasi, (KPK) berupaya menghentikan praktik-praktik ini melalui Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GN-PSDA). Dalam GN-PSDA, Pemda Riau harus menyelesaikan pengukuhan: kawasan hutan, penataan ruang dan wilayah administrasi, penataan perizinan kehutanan dan perkebunan, dan perluasan wilayah kelola masyarakat. Lalu, penyelesaian konflik kawasan hutan, penguatan instrumen lingkungan hidup dalam perlindungan hutan dan membangun sistem pengendalian anti korupsi.

Seperti itulah gambaran betapa berbahayanya kabut asap di Riau yang diawali dari sifat egois. Kita tak akan mengetahui apa yang ada di dalam hutan belantara sana sampai akhirnya kita sadar bahwa mereka telah hilang dan seberapa pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan hidup kita. Bersyukurlah kita menjalani kegiatan di daerah sekitar perbukitan yang memiliki banyak pepohonan sehingga dampak dari kabut asap tidak begitu terasa. Tetap semangat dan tetap berjaga-jaga dan pakailah masker jika berkegiatan di luar ruangan. Ingatlah selalu jika alam tak akan memberi ampun jika perasaan kita untuk melestarikannya sudah hilang.

Jadi, mana yang lebih pantas? Mereka menjadi “hijau” atau mereka menjadi “hitam”??????

Salam Lestari!..

Sumber: Disunting dari gagasanriau.com

©2015_Humas_KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s