Sumatran Mountains Expedition I, Menggali Nilai Konservasi Yang Ada Pada Gunung di Luar Sumatera Barat

Mencoba kembali mengenang sebuah kegiatan besar pada pengurus lembaga saat ini, salah satunya yaitu Sumatran Mountains Expedition I (selanjutnya disingkat SME I) yang dilaksanakan pada 26 Mei – 7 Juni 2015. Sebelum itu, mari kita bahas sekilas dulu tentang SME I itu sendiri. Kelompok Cinta Alam dan Lingkungan Hidup  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas (KCA-LH  FMIPA UNAND) merupakan lembaga yang mengangkatkan kegitan-kegiatan di alam bebas khususnya yang bersifat perjalanan jauh (ekspedisi). Salah satu ekspedisi yang diangkatkan adalah ekspedisi yang dilakukan minimal sekali dalam setahun untuk memperoleh data-data ilmiah, salah satunya di  kawasan gunung yang juga dilengkapi dengan data kondisi lingkungan ataupun jenis-jenis flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut. Guna mengembangkan lingkup informasi yang dimiliki, pada tahun ini KCA-LH  FMIPA UNAND mulai bergerak menuju kawasan pegunungan di luar daerah Sumatera Barat dan berencana untuk memenuhi data kawasan di pegunungan yang terdapat di pulau Sumatera yang berhubungan dengan konservasi lingkungan hidup.

Tahun ini KCA-LH  FMIPA UNAND mengangkatkan kegiatan SUMATRAN MOUNTAINS EXPEDITION I dengan kegiatan Studi Biofisika Tiga Puncak Merangin, Jambi. Kegiatan eksplorasi dalam ekspedisi ini juga diiringi dengan bentuk riset ilmiah yang diharapkan akan dapat dipublikasikan baik melalui jurnal ilmiah maupun media massa agar dapat berguna bagi para akademisi maupun oleh masyarakat umum. Untuk lebih rincinya, kegiatan yang diangkatkan pada kesempatan ini adalah inventarisasi flora eksotik, pengamatan  aves dan mammalia, pemetaan jalur pendakian, suseptibilitas mineral magnetik batuan, studi kearifan lokal dan terakhir adalah penyuluhan lingkungan hidup dan pendidikan konservasi usia dini pada masyarakat dengan sasaran adalah siswa sekolah dasar.

01

Gambar 1. Personil Sumatran Mountains Expedition I (ki-ka) Muhammad Ikhsan (CAR 023-14), M. Azhari Akbar (Raff 384 Ncc), Husnul Mar’I (Raff 383 Ncc), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc) & Afdal Fajri Salim (Raff 381 Alf)

Pada pagi itu tanggal 26 Mei 2015 tersebut, semua anggota tim yang akan berangkat maupun anggota yang tidak berangkat mulai menyelesaikan semua persiapan sebelum keberangkatan. Pada kesempatan ini ada lima orang yang akan terjun langsung ke lapangan yaitu Afdal Fajri Salim (Raff 381 Alf), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc), Husnul Mar’i (Raff 383 Ncc), M. Azhari Akbar (Raff 384 Ncc) dan M. Ikhsan (CAR 023-14). Matahari semakin tinggi dan perlahan-lahan mulai merangkak ke ufuk barat begitu pun dengan semua perlengkapan yang sudah tersusun rapi di dalam carrier dan siap untuk di bawah menuju Tiga Puncak Merangin. Pukul 20.00 WIB, bus mulai bergerak meninggalkan kota Padang menuju kota Bangko.

Sekitar pukul 05.00 WIB, bus mulai memasuki kota Bangko. Kedatangan tim kali ini diiringi dengan rintik-rintik air hujan. Tim sampai di pool bus di Bangko dan langsung menurunkan semua barang bawaan. Karena hubungan antar Mapala yang tak terbatas dimanapun berada, tim menghubungi Mapala Mata Angin yang merupakan Mapala yang ada di Bangko dan juga telah berhubungan dengan lembaga pada Sumatran Karst Expedition I pada tahun  2013 yang lalu. Selanjutnya kami berencana membagi tim menjadi dua kelompok, yaitu ada tim yang akan mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) ke balai TNKS dan ada yang akan silahturahmi ke Sekretariat Mapala Mata Angin.

Kami langsung memulai presentasi kegiatan kami di Balai TNKS dan dipimpin oleh Pak Dian selaku ketua Bidang yang mengurus TNKS di kawasan kami berkegiatan. Setelah menerima saran-saran dari bapak yang mengikuti presentasi, kami dinyatakan dapat menerima SIMAKSI  dan selanjutnya kami diarahkan oleh Bang Abdul untuk menandatangani SIMAKSI. Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sungai Lalang, terlebih dahulu kami mengurus perizinan di Koramil dan Kapolsek Merangin. Sekitar satu jam perjalanan dari kapolsek, mobil yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah dan ternyata rumah itu adalah rumah Bang Penas.

Gambar 2 & 3. Foto bersama penduduk setempat, Bang Pieter dan Bang Penas

Kami memulai pendakian dan selang beberapa menit kemudian sampai di pintu rimba. Setelah itu melanjutkan perjalanan dan target selanjutnya adalah shelter I. Jalan menuju shelter I lumayan landai, sambil mendaki kami melakukan inventarisasi flora dan juga pengamatan jejak mamalia. Sekitar 2 jam berjalan kami sampai di shelter I yang merupakan daerah yang sedikit datar dan landai serta disana terdapat sumber air. Disana terdapat juga kami temui pohon besar yang roboh dan menghalangi jalan.

Gambar 4, 5, 6, & 7. Pengambilan data untuk sampel jejak, penanda Shelter 1 yang merupakan sumber air, himbauan yang harus dipatuhi jika berada di alam bebas, penanda puncak Gunung Masurai.

Kami melanjutkan pendakian dan sambil jalan kami tetap melakukan pengamatan. Ada beberapa jejak yang kami dapat dan juga beberapa jenis burung, sedangkan untuk flora kami dapat menemukan jenis anggrek, begonia dan tumbuhan sejenis pacar air family Balsaminaceae. Setelah 4 jam berjalan kami sampai di persimpangan Danau Mabuk, karena tujuan kami adalah Danau Kumbang kami melanjutkan perjalanan. Selang beberapa menit kemudian kami sampai di Puncak Semu. Disana kami dapat melihat pemandangan yang indah serta Danau Kumbang yang terlihat begitu indah. Perjalanan dari Danau Kumbang cukup ekstrim dan sangat licin. Ada medan yang sudutnya hampir 90o dan mengharuskan kami bergelantungan dan berpegang erat pada akar-akar pohon. Akhirnya kami sampai di Danau Kumbang, suasana dingin langsung menyambut kedatangan kami dan hamparan danau yang indah begitu membuat mata tentram terbentang dihadapan kami.

08

Gambar 8. Salah satu jalur terjal yang dilalui oleh tim ekspedisi

Tujuan kami selanjutnya adalah puncak utama yang memakan waktu + 2 jam dari simpang Danau Kumbang, tetapi kami menghabiskan waktu tiga jam menuju puncak karena sepanjang perjalanan kami melakukan pengamatan mamalia dan aves serta inventarisasi flora. Sepanjang perjalanan kami ditemani oleh hutan lumut yang lebat, nephentes atau kantong semar, anggrek dan jenis tumbuhan herbaceous lainnya. Kalau untuk jejak kami banyak menemukan jejak si belang atau harimau, selain itu kami juga menemukan feses dari tapir. Untuk medannya sendiri tidak terlalu curam dan hanya ada beberapa medan yang mendaki.

10

Gambar 9. Foto bersama di Danau Kumbang

Setelah melakukan perjalanan, kami sampai di puncak. Di puncak kami beristirahat dan makan siang serta mengambil sampel suseptibilitas. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan menuju simpang Danau Kumbang karena kami meninggalkan semua barang-barang kami disana.

Menurut informasi yang kami dapat yaitu dari Bang Penas, kalau di Gunung Masurai terdapat tiga buah danau, yaitu Danau Kumbang, Danau Mabuk dan Danau Merah. Dari ketiga danau itu Danau Kumbang adalah danau yang paling sering dikunjungi oleh para pendaki karena lokasinya yang dekat sedangkan Danau Mabuk lokasinya cukup jauh dari rute pendakian dan danau merah jalan menuju danau itu belum terlalu jelas. Dari ketiga danau itu Danau Merah adalah danau yang memiliki air berwarna agak kemerah merahan dan ditepinya terdapat hamparan pasir.

Gambar 10 & 11. Pemandangan dari turunan sebelum Danau Kumbang dan CAR 023-14 yang mengabadikan momen ekspedisi perdananya.

Gambar 12 & 13. Pengambilan sampel batu untuk meneliti suseptibilitas Gunung Masurai & Foto bersama di puncak Gunung Masurai

Kami melanjutkan perjalanan dan selain itu kami juga memastikan tentang kegiatan penyuluhan yang akan kami adakan nantinya sebelum kembali ke Padang. Kami menemui kepala sekolah SDN Nomor 297/VI Sungai Lalang untuk mengurus perizinan kegiatan penyuluhan kami nanti. Sekitar pukul 16.00 WIB kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Nilo dan Gunung Sumbing. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami sudah menandai jalur perjalanan kami pada Global Positioning System (GPS). Kami berjalan dam Sekitar pukul 20.00 WIB kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan mendirikan tenda disana dan selanjutnya kami beristirahat.

Keesokannya kami kembali melanjutkan perjalanan membuka jalur. Target kami adalah puncak Gunung Nilo. Hari ini kami masih membagi tim menjadi dua kelompok untuk membuka jalur untuk melanjutkan perjalanan. Hari itu kami membuka jalur sampai ketinggian 1900 mdpl dan sebagian besar kami mengikuti jalur hewan. Kami kembali melanjutkan perjalanan dan kami tidak memakai sistem basecamp lagi karena kali ini semua tim berangkat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah melewati hutan rotan kami disambut dengan hutan lumut yang lebat pada yaitu pada ketinggian sekitar 2000 mdpl. Disana kami menemukan banyak flora eksotik yaitu kantong semar, Begoniaceae, anggrek dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Tak lupa kami melakukan inventarisasi dan sekitar pukul 17.00 WIB, kami masih belum sampai puncak namun kami sepakat untuk berhenti dan mendirikan camp karena kondisi hari yang mulai hujan dan selanjutnya kami istirahat.

14

Gambar 14. Melanjutkan perjalanan ke posko untuk lokasi berikutnya

Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di puncak dan kami beristirahat dan mengabadikan momen momen keberadaan kami di Puncak Nilo. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dan tujuan kami selanjutnya adalah Danau Kebut yaitu suatu lokasi berupa rawa yang cukup luas yang menjadi pemisah antara Gunung Nilo dan Gunung Sumbing. Kami berencana naik Gunung Sumbing dari Danau Kebut. Jalur yang kami lewati menuju danau kebut ialah menurun dan agak licin karena masih berada pada kawasan hutan lumut. Malam itu kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan menuju Gunung Sumbing karena kurang efisien untuk melanjutkan perjalanan dan esok harinya kami memutuskan untuk kembali ke Sungai Lalang.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lalang. Kami kembali menaiki puncak Gunung Nilo dan setelah itu baru kami menuju lokasi basecamp di kaki Gunung Nilo. Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai dilokasi camp, kami memutuskan beristirahat disana dan keesokan paginya baru melanjutkan perjalanan ke Sungai Lalang.

Gambar 15 & 16. Penyuluhan konservasi sejak dini pada Sekolah Dasar yang ada di Kaki Gunung Masurai.

Tibalah kegiatan tim untuk penyuluhan ke sekolah yang ada di kaki Gunung Masurai. Kami memulai penyuluhan yang bertema “Konservasi Sejak Dini” dan kegiatan pagi itu dihadiri oleh siswa kelas 3, 4, 5 dan 6.  Sebelumnya kepala sekolah SDN 297/VI membuka penyuluhan dan memberikan arahan kepada murid-muridnya. Setelah itu giliran kami mempersentasikan tujuan kami dan antusiasme dari siswa dan terlihat juga sebagian dari mereka sudah banyak yang mengerti tentang peduli lingkungan. Presentasi hari itu kami tutup dengan games berhadiah untuk menambah semarak suasana pagi itu. Setelah selesai, kami kembali kerumah Bang Penas dan bersiap-siap kembali ke Padang.

Kami kembali menaiki bus dan sekitar pukul 05.00 WIB kami sampai di Padang dan kami melanjutkan perjalanan menuju sekretariat yang sudah 2 minggu kami tinggalkan. Disana sudah banyak rekan-rekan kami yang menunggu dan hidangan yang siap untuk disantap. Setelah itu kami membersihlkan perlengkapan dan berbagi cerita-cerita dengan saudara-saudara yang tidak berkesempatan ikut.
Sungguh perjalanan yang luar biasa, Semoga ada kesempatan untuk kembali kesana lagi.

Ditulis oleh Zola Anjelia Putri, Raff 382 Ncc
Disunting oleh Kedhy Lavandino, Raff 379 Hmn

©2016_SMEI_KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s