Kekayaan Alam dan Budaya Gunung Tandikek

‘Mountain and Culture Exspedition’

By: KCA-LH rafflesia FMIPA UNAND

Bercerita tentang pendakian, bukan semata-mata cerita tentangpuncak namun mencoba menikmati setiaplangkah kaki sepanjang perjalananbertemankanpesona alam dikiri-kanansambilmemaknaisemua yang ditemukandanmencobamengetahui kekayaannya sebagai langkah awal untuk menjaga dan melestarikannya. Kali ini, KCA-LH rafflesia FMIPA UNAND mencoba menjelajahi alam Tandikek guna menggali kekayaannya yang dituangkan dalam kegiatan ekspedisi dengan tema‘Mountain and Culture Exspedition’ Tandikek, Sumatera Barat. Kegiatan kali ini didasari potensi yang adadalamjalur pendakian ini. Tujuannyaadalah untuk mencoba mengenalkan kekayaan alam dan budaya gunung Tandikek serta dengantujuan jangka panjang melakukan pengelolaan jalur pendakian Mega Mendung berbasis lingkungan dengan menerapkan konsep ekowisata. Sehinggadapatmeminimalisirkerusakanlingkunganolehparapendakitandikek.Selain itu juga mengenalkan budaya tradisonal masyarakat setempat karena Sumatera Barat itu kaya. Kaya dengan alam dan juga budayanya. KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND sebagaisebuahkelompokmahasiswapencintaalam yang berkedudukan di Fakultas MIPAsecaralatarbelakangmemilikihubungandengankegiatan-kegiatanpenelitiandanpelestarianSumberdayaAlamdanKeanekaragamanHayati.SehinggaEkspedisi yang dilakukan, secarakeseluruhanmerupakanekspedisi yang menghasilkaninformasimengenaikeanekaragamanhayatidanekosistemnyadalamsebuahkawasan.

GunungTandikekmerupakansalahsatugunungapi yang berada di di Sumatera Barat. GunumgTandikektermasuksalahsatudaritigagunungPuncak Tri Arga yang berartipenyanggalangitMinangkabau yang di antaranyaGunungMarapi, GunungSinggalang.Gunungtandikekmenjulangtinggisampaiketinggian2438 mdpl.Secara administratif gunung ini terletakdi kabupaten Tanah Datar. Gunung ini termasuk gunung yang jarang didaki dibandingkan gunung-gunung lain yang terdapatdi Sumatera Barat. Padahal gunung ini menyimpan pesona alam yang sangat luar biasasertakeanekaragamanhayati yang masihterjaga.

SaatiniGunung Tandikek memiliki beberapajalur pendakian yang umum digunakan, pertama jalur pendakian Ganting di desa Singgalang, jalurpendakian di desaMalalakdan jalur pendakian Mega Mendung yang terletak di kawasan Cagar Alam lembah Anai. JalurpendakianGantingmerupakanjalur yang paling seringgunakanolehparapendaki.Walaupunbegitusetiapjalurmemilikiceritadanpesonamasing-masing.Namunsaatini kami inginberbagipengalamanpendakiangunungTandikekjalur Mega Mendung.

Kali ini kami mencobamemahamisetiappesanalam yang disajikandarijalur pendakian Mega Mendung.Jalurinisangat menarik untuk dijelajahi dan dipelajari. Jalur ini dibuka oleh mapala Proklamator dan beberapa warga di kawasan tersebut. Start pendakianiniterletak di tepijalanraya di lokasipemandianMega Mendung di sebelahkiridariarah Padang yang ditandaidenganadanyaplangpendakian. Jalur ini memiliki rute yang sangat berbeda dibandingkan dengan jalur Ganting. Jalur ini memiliki rute yang lebih panjang, rute ini normalnya dapat ditempuh dalam waktu 24 jam kondisi jalan cepat) sedangkan jalur Ganting dapat ditempuh sekitar 5-7 jam (kondisi normal) sedangkan dari segi medan, jalur Mega Mendung memiliki rute yang lebih terjal dibanding jalur Ganting. Jalur Mega Mendung terdiri dari banyak bukit-bukit terjal sehingga harus melewati beberapa lembah, dan bukit serta harus menyeberangi sungai. Itu lah tantangan dari jalur ini ((red: Pecinta alam bukan penakluk alam). Jalur pendakian Tandikek via Mega Mendung menyajikan hutan tropis yang masih alami yang masih jarang di jamah oleh manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya pacet yang ditemukan sepanjang jalan.

Plang Pendakian gunung tandikek via Mega Mendung sebagai start pendakian

Kegiatan ‘Mountain and Culture Exspedition’ Tandikek,dilaksanakan dalam dua tahap, tahap l dilaksanakan pada tanggal 13-16 April 2017 dengan tujuan survei data awal dan tahap ll dilaksanakan tanggal 1-7 Maret 2017 dengan pengambilan data lanjutan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan pendataan awal flora, pendataan fauna serta melakukan pemetaan spot-spot penting dan juga menggali budaya tradisional masyarakat setempat. Tim ekspedisi kali terdiridariAnggotaaktif (Anggotabiasadananggotamuda) dananggotakehormatan, total tim yang berangkatsebanyak 14 orang yakniM. Nazri Janra (Raff 332 Rgt), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc), Husnul mar’i (Raff 383 Ncc), M. Azhari Akbar (Raff 84 Ncc), Elfira Septinsyah (Raff 385 Ems), Hanifa Azzaura (Raff 387 Ems), Susra Yeni (Raff 388 Ems), Riri Tuningsi (Raff 389 Ems), Nova Muryani (Raff 390 Ems), Erysca Dwi Syukma (Raff 391 Ems), M. Ikhsan (Raff 392 Ems) dan Sri Wahyuni (AMR 001-17). M. Nazri Janra (Raff 332 Rgt)merupakananggotakehormatan yang sekarangmenjadidosenbiologi di UniversitasAndalas. Beliaumerupakan orang yang ahlidalamOrnitologi (Aves) yang membantudalammendatajenisburungselamakegiatanini.

Acara pelepasan tim ‘‘Mountain and Culture Exspedition’ TandikekolehDr. Nurainas, M.Si , Pembina KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

Tim siap berangkat.. Lestari!!!!!

Tim ekspedisi kali ini didominasi oleh anggota perempuan, 10 orang perempuan dari 14 anggota tim. Namun hal tersebut bukan menjadi hambatan bagi, karena gim ini merupakan tim yang tangguh yang siap melakukan perjalanan panjang di Tandikek via mega mendung.

Poskopendakian Mega Mendung

Jalur pendakian mega mendung memiliki posko pendakianyang dapat dijadikan tempat menginap danberistirahabagi pendaki, posko terletak sekitar 200 meter dari titik awal pendakian yakni didalam kawasan pemandian mega mendung. Sebelummelakukanpendakianpendakidapatmelepaslelahsejenak di sinisambilmengumpulkantenagauntukmelewatijalurpendakianinisambilmenikmatisauasana yang nyamanwalaupunlokasiberada di tengahkeramaiantempatwisatapemandian.

Jalur pendakian mega mendung memiliki dua alternatif jalur yakni jalur normal dan jalur evakuasi. Jalur evakuasi berada sekitar 5 km kearah Padang Panjang. Jalur pendakian mega mendung ditandaioleh marker dengan tanda T yakniT1sampaiT 101 dari start pendakianhinggapuncak. Jalur evakuasi akan membawa pendaki langsung menuju T 35. Pada titik tersebut para pendaki akan menemukan aliran sungai yang jernihdanbersih, sungaiiniakanyang mehului air terjun angku sati. Air terjun angkun sati merupakan salah satu dari tiga air terjun kawasan mega mendung yang dikelolah oleh masyarakat setempat. Sedangkanjalur normal merupakan track denganbeberapabukitdanmenurunilembahsertamelewatibeberapaanaksungai yang keringsaattidakturunhujan. T 35 merupakanlokasi yang disarankanmenjaditempacamp.Lokasilain yang dapadijadikansebagaitempatcampadalah T 43 dan T 66 karenalokasiinidaar, dekatdarisumber air danbukanjalurperlintasanhewan. Jalur via mega mendunginimemberikan bonus kepadaparapendakiberupabeberapa air terjun.Terdapattigabuah air terjunyaitu air Angku Sati, air terjunproklamatordan air terjunKatumanggungan. MenurutAngku Sati (warga yang mengelolahjalurpendakianini) masihterdapatbeberapa air terjunlainnya, air terjuninidapatdigunakansebagaitempatistirahatmelepaslelahnamunjanganlupatetapmenjagakebersihandankelestarianlingkungansekitar, jadilahpecintaalambukanpendakigununglabil.

Sungai di T-35, sungai yang jernihdanbersih, yang dapatmenjadipenawarpenatdandahaga

(Dok.Rafflesia)

Moment kebersamaan tim di lapangan. Lokasi T 5 (Dok. Rafflesia)

Sungguhpesonaalam yang luarbiasa, kami melewatikondisihutan yang masihalami.Sepanjangjalan kami melewatipohon-pohonbesar yang menjulangtinggi.PohondarifamiliFagaceae, lauraceae, DipterocarpaceaedanMyrtaceaedapatditemui di sepanjangperjalananini.Sepanjangjalankitadapatmelihatbeberapahewanprimata yang bergelantungan di pohon, jenishewanprimata yang kami jumpaidi sepanjangjalurpendakianadalahungko (Hylobatesagilis)dansimpai (Presbytismelalophos), hewantersebutbergelayutan di pohon.Sepanjangjalanterdapatbanyakpacet, banyaksekali, halinimenandakankawasaninibanyakterdapathewanmamaliabesarsepertibabihutandan lain-lain.

Fototim di depanpohonberingin yang sangabesar(Dok. Rafflesia)

Kegiatanpengamatanjenis-jenisburung di sepanjangjalurdan di lokasi camp (Dok. Rafflesia)

Burung merupakan bagian penyusun dalam sebuah ekosistem, yang akan berpengaruh dalam keseimbangan ekosistem. Dalam ekspedisi kali ini bertujuan untuk mengetahui jenis – jenis burung yang terdapat di kawasan ini dengan menggunakan metoda Macckinnon.  Di dalam kawasan ini masih banyak terdapat jenis – jenis burung yang ditemui.  di sepanjang jalur ini.  Burung dengan warna – warna serta suara yang merdu mengiringi setiap langkah kaki.

Hypothymisazurea(Kehicap ranting) salahsatujenisburung yang dapatditemui di gunungTandikek(Dok.Rafflesia)

Megophrysnasuta, salah satu amphibi penghuni gunung Tandikek

(Dok.Rafflesia)

Megophrysnasuta (malayan horned toad) adalahkatakbertandukyang tubuhnyayang berwarnacoklatkekuningan, sangatmiripdenganlingkungannyamiripdandedaunan di sekitarnya hal tersebut merupakan bentuk penyamaran agar ia dapat menjebak mangsanya.

Keanekaragaman flora kawasan gunung Tandikek

Kawasan tandikek sangat kaya dengan keanekaragaman hayatinya, baik segi flora maupun fauna. Di sepanjang jalur dapat dijumpai flora-flora yang indah yang menghiasi kawasan ini. Beberapa flora-flora yang menghuni kawasan gunung Tandikek diantaranya adalah dari famili Balsaminaceae (genus Impatiens), Begoniaceae (genus Begonia), Sterculiaceae (genus Sterculia), Orchidaceae, Rosaceae (genus Rubus), Balanophoracea, Nepentaceae, dan beberapa jenis jamur liar. Flora-flora tersebu baru beberapa jenis masih banyak flora lain yang dapat dijumpai. Flora yang lainnya masih dalam tahap identifikasi untuk kedepannya akan diceritakan di lain kesempatan. Dikawasan ini diperkirakan terdapat habitat dari bunga Rafflesia, karena tim menemukan bongkol bunga tersebut dalam keadaan yang sudah busuk. Bunga ini merupakan bunga yang langka dan jarang ditemui, sehingga untuk kelestarian

PuncakTandikek (Dok. Rafflesia)

Puncak adalah bonus dalam perjalanan ini, puncak bukanlah tujuan utama.  Merasa cukup walau tak dapat menggapai puncak dan tetap merasa cukup saat berdiri di puncak.  Salam hijau dari puncak hijau oleh  kami pecinta hijau untuk kita pengagum hijau.  Dan semoga tetap hijau.

Perjalanan panjang di hutan tropis ini mengajarkan banyak hal, mengerti akan besarnya kuasa illahi, keindahan alam yang harus dijaga dan dilestarikan guna keberlangsungan nya di alam. Mengangkatkan ekspedisi dengan tema ‘Mountain and Culture Exspedition’ kawasan Tandikek, Sumatera Barat dilakukan guna mengkaji satuan kompleks yang terdiri dari beberapa komponen penyusunnya. Manusia adalah salah satu penyusun dari alam itu sendiri yang akan memberikan dampak positif maupun negatif terhadapa alam. Manusia-manusia yang hidup di Minangkabauadalah masyarakat minangkabau, masyarakat yang memiliki ragam tradisi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelestariaan alam itu sendiri. Hal ini perlu dikaji guna mengetahui seberapa besar pengaruh kebiasan dan tradisi masyarakat terhadap kelstarian alam sekitarnya.

Welcome home (Dok. Rafflesia)

Sejauh-jauhperjalanan, seindah –indahnyatempat yang sedangdikunjungirumahtetapmenjaditempatkembalikarenatujuandarisebuahekspedisiadalahkembalidenganselamat. Welcome home tim.

See you again Tandikek (Dok. Rafflesia).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s