Kekayaan Alam dan Budaya Gunung Tandikek

‘Mountain and Culture Exspedition’

By: KCA-LH rafflesia FMIPA UNAND

Bercerita tentang pendakian, bukan semata-mata cerita tentangpuncak namun mencoba menikmati setiaplangkah kaki sepanjang perjalananbertemankanpesona alam dikiri-kanansambilmemaknaisemua yang ditemukandanmencobamengetahui kekayaannya sebagai langkah awal untuk menjaga dan melestarikannya. Kali ini, KCA-LH rafflesia FMIPA UNAND mencoba menjelajahi alam Tandikek guna menggali kekayaannya yang dituangkan dalam kegiatan ekspedisi dengan tema‘Mountain and Culture Exspedition’ Tandikek, Sumatera Barat. Kegiatan kali ini didasari potensi yang adadalamjalur pendakian ini. Tujuannyaadalah untuk mencoba mengenalkan kekayaan alam dan budaya gunung Tandikek serta dengantujuan jangka panjang melakukan pengelolaan jalur pendakian Mega Mendung berbasis lingkungan dengan menerapkan konsep ekowisata. Sehinggadapatmeminimalisirkerusakanlingkunganolehparapendakitandikek.Selain itu juga mengenalkan budaya tradisonal masyarakat setempat karena Sumatera Barat itu kaya. Kaya dengan alam dan juga budayanya. KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND sebagaisebuahkelompokmahasiswapencintaalam yang berkedudukan di Fakultas MIPAsecaralatarbelakangmemilikihubungandengankegiatan-kegiatanpenelitiandanpelestarianSumberdayaAlamdanKeanekaragamanHayati.SehinggaEkspedisi yang dilakukan, secarakeseluruhanmerupakanekspedisi yang menghasilkaninformasimengenaikeanekaragamanhayatidanekosistemnyadalamsebuahkawasan.

GunungTandikekmerupakansalahsatugunungapi yang berada di di Sumatera Barat. GunumgTandikektermasuksalahsatudaritigagunungPuncak Tri Arga yang berartipenyanggalangitMinangkabau yang di antaranyaGunungMarapi, GunungSinggalang.Gunungtandikekmenjulangtinggisampaiketinggian2438 mdpl.Secara administratif gunung ini terletakdi kabupaten Tanah Datar. Gunung ini termasuk gunung yang jarang didaki dibandingkan gunung-gunung lain yang terdapatdi Sumatera Barat. Padahal gunung ini menyimpan pesona alam yang sangat luar biasasertakeanekaragamanhayati yang masihterjaga.

SaatiniGunung Tandikek memiliki beberapajalur pendakian yang umum digunakan, pertama jalur pendakian Ganting di desa Singgalang, jalurpendakian di desaMalalakdan jalur pendakian Mega Mendung yang terletak di kawasan Cagar Alam lembah Anai. JalurpendakianGantingmerupakanjalur yang paling seringgunakanolehparapendaki.Walaupunbegitusetiapjalurmemilikiceritadanpesonamasing-masing.Namunsaatini kami inginberbagipengalamanpendakiangunungTandikekjalur Mega Mendung.

Kali ini kami mencobamemahamisetiappesanalam yang disajikandarijalur pendakian Mega Mendung.Jalurinisangat menarik untuk dijelajahi dan dipelajari. Jalur ini dibuka oleh mapala Proklamator dan beberapa warga di kawasan tersebut. Start pendakianiniterletak di tepijalanraya di lokasipemandianMega Mendung di sebelahkiridariarah Padang yang ditandaidenganadanyaplangpendakian. Jalur ini memiliki rute yang sangat berbeda dibandingkan dengan jalur Ganting. Jalur ini memiliki rute yang lebih panjang, rute ini normalnya dapat ditempuh dalam waktu 24 jam kondisi jalan cepat) sedangkan jalur Ganting dapat ditempuh sekitar 5-7 jam (kondisi normal) sedangkan dari segi medan, jalur Mega Mendung memiliki rute yang lebih terjal dibanding jalur Ganting. Jalur Mega Mendung terdiri dari banyak bukit-bukit terjal sehingga harus melewati beberapa lembah, dan bukit serta harus menyeberangi sungai. Itu lah tantangan dari jalur ini ((red: Pecinta alam bukan penakluk alam). Jalur pendakian Tandikek via Mega Mendung menyajikan hutan tropis yang masih alami yang masih jarang di jamah oleh manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya pacet yang ditemukan sepanjang jalan.

Plang Pendakian gunung tandikek via Mega Mendung sebagai start pendakian

Kegiatan ‘Mountain and Culture Exspedition’ Tandikek,dilaksanakan dalam dua tahap, tahap l dilaksanakan pada tanggal 13-16 April 2017 dengan tujuan survei data awal dan tahap ll dilaksanakan tanggal 1-7 Maret 2017 dengan pengambilan data lanjutan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan pendataan awal flora, pendataan fauna serta melakukan pemetaan spot-spot penting dan juga menggali budaya tradisional masyarakat setempat. Tim ekspedisi kali terdiridariAnggotaaktif (Anggotabiasadananggotamuda) dananggotakehormatan, total tim yang berangkatsebanyak 14 orang yakniM. Nazri Janra (Raff 332 Rgt), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc), Husnul mar’i (Raff 383 Ncc), M. Azhari Akbar (Raff 84 Ncc), Elfira Septinsyah (Raff 385 Ems), Hanifa Azzaura (Raff 387 Ems), Susra Yeni (Raff 388 Ems), Riri Tuningsi (Raff 389 Ems), Nova Muryani (Raff 390 Ems), Erysca Dwi Syukma (Raff 391 Ems), M. Ikhsan (Raff 392 Ems) dan Sri Wahyuni (AMR 001-17). M. Nazri Janra (Raff 332 Rgt)merupakananggotakehormatan yang sekarangmenjadidosenbiologi di UniversitasAndalas. Beliaumerupakan orang yang ahlidalamOrnitologi (Aves) yang membantudalammendatajenisburungselamakegiatanini.

Acara pelepasan tim ‘‘Mountain and Culture Exspedition’ TandikekolehDr. Nurainas, M.Si , Pembina KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

Tim siap berangkat.. Lestari!!!!!

Tim ekspedisi kali ini didominasi oleh anggota perempuan, 10 orang perempuan dari 14 anggota tim. Namun hal tersebut bukan menjadi hambatan bagi, karena gim ini merupakan tim yang tangguh yang siap melakukan perjalanan panjang di Tandikek via mega mendung.

Poskopendakian Mega Mendung

Jalur pendakian mega mendung memiliki posko pendakianyang dapat dijadikan tempat menginap danberistirahabagi pendaki, posko terletak sekitar 200 meter dari titik awal pendakian yakni didalam kawasan pemandian mega mendung. Sebelummelakukanpendakianpendakidapatmelepaslelahsejenak di sinisambilmengumpulkantenagauntukmelewatijalurpendakianinisambilmenikmatisauasana yang nyamanwalaupunlokasiberada di tengahkeramaiantempatwisatapemandian.

Jalur pendakian mega mendung memiliki dua alternatif jalur yakni jalur normal dan jalur evakuasi. Jalur evakuasi berada sekitar 5 km kearah Padang Panjang. Jalur pendakian mega mendung ditandaioleh marker dengan tanda T yakniT1sampaiT 101 dari start pendakianhinggapuncak. Jalur evakuasi akan membawa pendaki langsung menuju T 35. Pada titik tersebut para pendaki akan menemukan aliran sungai yang jernihdanbersih, sungaiiniakanyang mehului air terjun angku sati. Air terjun angkun sati merupakan salah satu dari tiga air terjun kawasan mega mendung yang dikelolah oleh masyarakat setempat. Sedangkanjalur normal merupakan track denganbeberapabukitdanmenurunilembahsertamelewatibeberapaanaksungai yang keringsaattidakturunhujan. T 35 merupakanlokasi yang disarankanmenjaditempacamp.Lokasilain yang dapadijadikansebagaitempatcampadalah T 43 dan T 66 karenalokasiinidaar, dekatdarisumber air danbukanjalurperlintasanhewan. Jalur via mega mendunginimemberikan bonus kepadaparapendakiberupabeberapa air terjun.Terdapattigabuah air terjunyaitu air Angku Sati, air terjunproklamatordan air terjunKatumanggungan. MenurutAngku Sati (warga yang mengelolahjalurpendakianini) masihterdapatbeberapa air terjunlainnya, air terjuninidapatdigunakansebagaitempatistirahatmelepaslelahnamunjanganlupatetapmenjagakebersihandankelestarianlingkungansekitar, jadilahpecintaalambukanpendakigununglabil.

Sungai di T-35, sungai yang jernihdanbersih, yang dapatmenjadipenawarpenatdandahaga

(Dok.Rafflesia)

Moment kebersamaan tim di lapangan. Lokasi T 5 (Dok. Rafflesia)

Sungguhpesonaalam yang luarbiasa, kami melewatikondisihutan yang masihalami.Sepanjangjalan kami melewatipohon-pohonbesar yang menjulangtinggi.PohondarifamiliFagaceae, lauraceae, DipterocarpaceaedanMyrtaceaedapatditemui di sepanjangperjalananini.Sepanjangjalankitadapatmelihatbeberapahewanprimata yang bergelantungan di pohon, jenishewanprimata yang kami jumpaidi sepanjangjalurpendakianadalahungko (Hylobatesagilis)dansimpai (Presbytismelalophos), hewantersebutbergelayutan di pohon.Sepanjangjalanterdapatbanyakpacet, banyaksekali, halinimenandakankawasaninibanyakterdapathewanmamaliabesarsepertibabihutandan lain-lain.

Fototim di depanpohonberingin yang sangabesar(Dok. Rafflesia)

Kegiatanpengamatanjenis-jenisburung di sepanjangjalurdan di lokasi camp (Dok. Rafflesia)

Burung merupakan bagian penyusun dalam sebuah ekosistem, yang akan berpengaruh dalam keseimbangan ekosistem. Dalam ekspedisi kali ini bertujuan untuk mengetahui jenis – jenis burung yang terdapat di kawasan ini dengan menggunakan metoda Macckinnon.  Di dalam kawasan ini masih banyak terdapat jenis – jenis burung yang ditemui.  di sepanjang jalur ini.  Burung dengan warna – warna serta suara yang merdu mengiringi setiap langkah kaki.

Hypothymisazurea(Kehicap ranting) salahsatujenisburung yang dapatditemui di gunungTandikek(Dok.Rafflesia)

Megophrysnasuta, salah satu amphibi penghuni gunung Tandikek

(Dok.Rafflesia)

Megophrysnasuta (malayan horned toad) adalahkatakbertandukyang tubuhnyayang berwarnacoklatkekuningan, sangatmiripdenganlingkungannyamiripdandedaunan di sekitarnya hal tersebut merupakan bentuk penyamaran agar ia dapat menjebak mangsanya.

Keanekaragaman flora kawasan gunung Tandikek

Kawasan tandikek sangat kaya dengan keanekaragaman hayatinya, baik segi flora maupun fauna. Di sepanjang jalur dapat dijumpai flora-flora yang indah yang menghiasi kawasan ini. Beberapa flora-flora yang menghuni kawasan gunung Tandikek diantaranya adalah dari famili Balsaminaceae (genus Impatiens), Begoniaceae (genus Begonia), Sterculiaceae (genus Sterculia), Orchidaceae, Rosaceae (genus Rubus), Balanophoracea, Nepentaceae, dan beberapa jenis jamur liar. Flora-flora tersebu baru beberapa jenis masih banyak flora lain yang dapat dijumpai. Flora yang lainnya masih dalam tahap identifikasi untuk kedepannya akan diceritakan di lain kesempatan. Dikawasan ini diperkirakan terdapat habitat dari bunga Rafflesia, karena tim menemukan bongkol bunga tersebut dalam keadaan yang sudah busuk. Bunga ini merupakan bunga yang langka dan jarang ditemui, sehingga untuk kelestarian

PuncakTandikek (Dok. Rafflesia)

Puncak adalah bonus dalam perjalanan ini, puncak bukanlah tujuan utama.  Merasa cukup walau tak dapat menggapai puncak dan tetap merasa cukup saat berdiri di puncak.  Salam hijau dari puncak hijau oleh  kami pecinta hijau untuk kita pengagum hijau.  Dan semoga tetap hijau.

Perjalanan panjang di hutan tropis ini mengajarkan banyak hal, mengerti akan besarnya kuasa illahi, keindahan alam yang harus dijaga dan dilestarikan guna keberlangsungan nya di alam. Mengangkatkan ekspedisi dengan tema ‘Mountain and Culture Exspedition’ kawasan Tandikek, Sumatera Barat dilakukan guna mengkaji satuan kompleks yang terdiri dari beberapa komponen penyusunnya. Manusia adalah salah satu penyusun dari alam itu sendiri yang akan memberikan dampak positif maupun negatif terhadapa alam. Manusia-manusia yang hidup di Minangkabauadalah masyarakat minangkabau, masyarakat yang memiliki ragam tradisi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelestariaan alam itu sendiri. Hal ini perlu dikaji guna mengetahui seberapa besar pengaruh kebiasan dan tradisi masyarakat terhadap kelstarian alam sekitarnya.

Welcome home (Dok. Rafflesia)

Sejauh-jauhperjalanan, seindah –indahnyatempat yang sedangdikunjungirumahtetapmenjaditempatkembalikarenatujuandarisebuahekspedisiadalahkembalidenganselamat. Welcome home tim.

See you again Tandikek (Dok. Rafflesia).

 

Iklan

Sumatran Mountains Expedition I, Menggali Nilai Konservasi Yang Ada Pada Gunung di Luar Sumatera Barat

Mencoba kembali mengenang sebuah kegiatan besar pada pengurus lembaga saat ini, salah satunya yaitu Sumatran Mountains Expedition I (selanjutnya disingkat SME I) yang dilaksanakan pada 26 Mei – 7 Juni 2015. Sebelum itu, mari kita bahas sekilas dulu tentang SME I itu sendiri. Kelompok Cinta Alam dan Lingkungan Hidup  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas (KCA-LH  FMIPA UNAND) merupakan lembaga yang mengangkatkan kegitan-kegiatan di alam bebas khususnya yang bersifat perjalanan jauh (ekspedisi). Salah satu ekspedisi yang diangkatkan adalah ekspedisi yang dilakukan minimal sekali dalam setahun untuk memperoleh data-data ilmiah, salah satunya di  kawasan gunung yang juga dilengkapi dengan data kondisi lingkungan ataupun jenis-jenis flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut. Guna mengembangkan lingkup informasi yang dimiliki, pada tahun ini KCA-LH  FMIPA UNAND mulai bergerak menuju kawasan pegunungan di luar daerah Sumatera Barat dan berencana untuk memenuhi data kawasan di pegunungan yang terdapat di pulau Sumatera yang berhubungan dengan konservasi lingkungan hidup.

Tahun ini KCA-LH  FMIPA UNAND mengangkatkan kegiatan SUMATRAN MOUNTAINS EXPEDITION I dengan kegiatan Studi Biofisika Tiga Puncak Merangin, Jambi. Kegiatan eksplorasi dalam ekspedisi ini juga diiringi dengan bentuk riset ilmiah yang diharapkan akan dapat dipublikasikan baik melalui jurnal ilmiah maupun media massa agar dapat berguna bagi para akademisi maupun oleh masyarakat umum. Untuk lebih rincinya, kegiatan yang diangkatkan pada kesempatan ini adalah inventarisasi flora eksotik, pengamatan  aves dan mammalia, pemetaan jalur pendakian, suseptibilitas mineral magnetik batuan, studi kearifan lokal dan terakhir adalah penyuluhan lingkungan hidup dan pendidikan konservasi usia dini pada masyarakat dengan sasaran adalah siswa sekolah dasar.

01

Gambar 1. Personil Sumatran Mountains Expedition I (ki-ka) Muhammad Ikhsan (CAR 023-14), M. Azhari Akbar (Raff 384 Ncc), Husnul Mar’I (Raff 383 Ncc), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc) & Afdal Fajri Salim (Raff 381 Alf)

Pada pagi itu tanggal 26 Mei 2015 tersebut, semua anggota tim yang akan berangkat maupun anggota yang tidak berangkat mulai menyelesaikan semua persiapan sebelum keberangkatan. Pada kesempatan ini ada lima orang yang akan terjun langsung ke lapangan yaitu Afdal Fajri Salim (Raff 381 Alf), Zola Anjelia Putri (Raff 382 Ncc), Husnul Mar’i (Raff 383 Ncc), M. Azhari Akbar (Raff 384 Ncc) dan M. Ikhsan (CAR 023-14). Matahari semakin tinggi dan perlahan-lahan mulai merangkak ke ufuk barat begitu pun dengan semua perlengkapan yang sudah tersusun rapi di dalam carrier dan siap untuk di bawah menuju Tiga Puncak Merangin. Pukul 20.00 WIB, bus mulai bergerak meninggalkan kota Padang menuju kota Bangko.

Sekitar pukul 05.00 WIB, bus mulai memasuki kota Bangko. Kedatangan tim kali ini diiringi dengan rintik-rintik air hujan. Tim sampai di pool bus di Bangko dan langsung menurunkan semua barang bawaan. Karena hubungan antar Mapala yang tak terbatas dimanapun berada, tim menghubungi Mapala Mata Angin yang merupakan Mapala yang ada di Bangko dan juga telah berhubungan dengan lembaga pada Sumatran Karst Expedition I pada tahun  2013 yang lalu. Selanjutnya kami berencana membagi tim menjadi dua kelompok, yaitu ada tim yang akan mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) ke balai TNKS dan ada yang akan silahturahmi ke Sekretariat Mapala Mata Angin.

Kami langsung memulai presentasi kegiatan kami di Balai TNKS dan dipimpin oleh Pak Dian selaku ketua Bidang yang mengurus TNKS di kawasan kami berkegiatan. Setelah menerima saran-saran dari bapak yang mengikuti presentasi, kami dinyatakan dapat menerima SIMAKSI  dan selanjutnya kami diarahkan oleh Bang Abdul untuk menandatangani SIMAKSI. Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sungai Lalang, terlebih dahulu kami mengurus perizinan di Koramil dan Kapolsek Merangin. Sekitar satu jam perjalanan dari kapolsek, mobil yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah dan ternyata rumah itu adalah rumah Bang Penas.

Gambar 2 & 3. Foto bersama penduduk setempat, Bang Pieter dan Bang Penas

Kami memulai pendakian dan selang beberapa menit kemudian sampai di pintu rimba. Setelah itu melanjutkan perjalanan dan target selanjutnya adalah shelter I. Jalan menuju shelter I lumayan landai, sambil mendaki kami melakukan inventarisasi flora dan juga pengamatan jejak mamalia. Sekitar 2 jam berjalan kami sampai di shelter I yang merupakan daerah yang sedikit datar dan landai serta disana terdapat sumber air. Disana terdapat juga kami temui pohon besar yang roboh dan menghalangi jalan.

Gambar 4, 5, 6, & 7. Pengambilan data untuk sampel jejak, penanda Shelter 1 yang merupakan sumber air, himbauan yang harus dipatuhi jika berada di alam bebas, penanda puncak Gunung Masurai.

Kami melanjutkan pendakian dan sambil jalan kami tetap melakukan pengamatan. Ada beberapa jejak yang kami dapat dan juga beberapa jenis burung, sedangkan untuk flora kami dapat menemukan jenis anggrek, begonia dan tumbuhan sejenis pacar air family Balsaminaceae. Setelah 4 jam berjalan kami sampai di persimpangan Danau Mabuk, karena tujuan kami adalah Danau Kumbang kami melanjutkan perjalanan. Selang beberapa menit kemudian kami sampai di Puncak Semu. Disana kami dapat melihat pemandangan yang indah serta Danau Kumbang yang terlihat begitu indah. Perjalanan dari Danau Kumbang cukup ekstrim dan sangat licin. Ada medan yang sudutnya hampir 90o dan mengharuskan kami bergelantungan dan berpegang erat pada akar-akar pohon. Akhirnya kami sampai di Danau Kumbang, suasana dingin langsung menyambut kedatangan kami dan hamparan danau yang indah begitu membuat mata tentram terbentang dihadapan kami.

08

Gambar 8. Salah satu jalur terjal yang dilalui oleh tim ekspedisi

Tujuan kami selanjutnya adalah puncak utama yang memakan waktu + 2 jam dari simpang Danau Kumbang, tetapi kami menghabiskan waktu tiga jam menuju puncak karena sepanjang perjalanan kami melakukan pengamatan mamalia dan aves serta inventarisasi flora. Sepanjang perjalanan kami ditemani oleh hutan lumut yang lebat, nephentes atau kantong semar, anggrek dan jenis tumbuhan herbaceous lainnya. Kalau untuk jejak kami banyak menemukan jejak si belang atau harimau, selain itu kami juga menemukan feses dari tapir. Untuk medannya sendiri tidak terlalu curam dan hanya ada beberapa medan yang mendaki.

10

Gambar 9. Foto bersama di Danau Kumbang

Setelah melakukan perjalanan, kami sampai di puncak. Di puncak kami beristirahat dan makan siang serta mengambil sampel suseptibilitas. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan menuju simpang Danau Kumbang karena kami meninggalkan semua barang-barang kami disana.

Menurut informasi yang kami dapat yaitu dari Bang Penas, kalau di Gunung Masurai terdapat tiga buah danau, yaitu Danau Kumbang, Danau Mabuk dan Danau Merah. Dari ketiga danau itu Danau Kumbang adalah danau yang paling sering dikunjungi oleh para pendaki karena lokasinya yang dekat sedangkan Danau Mabuk lokasinya cukup jauh dari rute pendakian dan danau merah jalan menuju danau itu belum terlalu jelas. Dari ketiga danau itu Danau Merah adalah danau yang memiliki air berwarna agak kemerah merahan dan ditepinya terdapat hamparan pasir.

Gambar 10 & 11. Pemandangan dari turunan sebelum Danau Kumbang dan CAR 023-14 yang mengabadikan momen ekspedisi perdananya.

Gambar 12 & 13. Pengambilan sampel batu untuk meneliti suseptibilitas Gunung Masurai & Foto bersama di puncak Gunung Masurai

Kami melanjutkan perjalanan dan selain itu kami juga memastikan tentang kegiatan penyuluhan yang akan kami adakan nantinya sebelum kembali ke Padang. Kami menemui kepala sekolah SDN Nomor 297/VI Sungai Lalang untuk mengurus perizinan kegiatan penyuluhan kami nanti. Sekitar pukul 16.00 WIB kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Nilo dan Gunung Sumbing. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami sudah menandai jalur perjalanan kami pada Global Positioning System (GPS). Kami berjalan dam Sekitar pukul 20.00 WIB kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan mendirikan tenda disana dan selanjutnya kami beristirahat.

Keesokannya kami kembali melanjutkan perjalanan membuka jalur. Target kami adalah puncak Gunung Nilo. Hari ini kami masih membagi tim menjadi dua kelompok untuk membuka jalur untuk melanjutkan perjalanan. Hari itu kami membuka jalur sampai ketinggian 1900 mdpl dan sebagian besar kami mengikuti jalur hewan. Kami kembali melanjutkan perjalanan dan kami tidak memakai sistem basecamp lagi karena kali ini semua tim berangkat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah melewati hutan rotan kami disambut dengan hutan lumut yang lebat pada yaitu pada ketinggian sekitar 2000 mdpl. Disana kami menemukan banyak flora eksotik yaitu kantong semar, Begoniaceae, anggrek dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Tak lupa kami melakukan inventarisasi dan sekitar pukul 17.00 WIB, kami masih belum sampai puncak namun kami sepakat untuk berhenti dan mendirikan camp karena kondisi hari yang mulai hujan dan selanjutnya kami istirahat.

14

Gambar 14. Melanjutkan perjalanan ke posko untuk lokasi berikutnya

Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di puncak dan kami beristirahat dan mengabadikan momen momen keberadaan kami di Puncak Nilo. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dan tujuan kami selanjutnya adalah Danau Kebut yaitu suatu lokasi berupa rawa yang cukup luas yang menjadi pemisah antara Gunung Nilo dan Gunung Sumbing. Kami berencana naik Gunung Sumbing dari Danau Kebut. Jalur yang kami lewati menuju danau kebut ialah menurun dan agak licin karena masih berada pada kawasan hutan lumut. Malam itu kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan menuju Gunung Sumbing karena kurang efisien untuk melanjutkan perjalanan dan esok harinya kami memutuskan untuk kembali ke Sungai Lalang.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lalang. Kami kembali menaiki puncak Gunung Nilo dan setelah itu baru kami menuju lokasi basecamp di kaki Gunung Nilo. Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai dilokasi camp, kami memutuskan beristirahat disana dan keesokan paginya baru melanjutkan perjalanan ke Sungai Lalang.

Gambar 15 & 16. Penyuluhan konservasi sejak dini pada Sekolah Dasar yang ada di Kaki Gunung Masurai.

Tibalah kegiatan tim untuk penyuluhan ke sekolah yang ada di kaki Gunung Masurai. Kami memulai penyuluhan yang bertema “Konservasi Sejak Dini” dan kegiatan pagi itu dihadiri oleh siswa kelas 3, 4, 5 dan 6.  Sebelumnya kepala sekolah SDN 297/VI membuka penyuluhan dan memberikan arahan kepada murid-muridnya. Setelah itu giliran kami mempersentasikan tujuan kami dan antusiasme dari siswa dan terlihat juga sebagian dari mereka sudah banyak yang mengerti tentang peduli lingkungan. Presentasi hari itu kami tutup dengan games berhadiah untuk menambah semarak suasana pagi itu. Setelah selesai, kami kembali kerumah Bang Penas dan bersiap-siap kembali ke Padang.

Kami kembali menaiki bus dan sekitar pukul 05.00 WIB kami sampai di Padang dan kami melanjutkan perjalanan menuju sekretariat yang sudah 2 minggu kami tinggalkan. Disana sudah banyak rekan-rekan kami yang menunggu dan hidangan yang siap untuk disantap. Setelah itu kami membersihlkan perlengkapan dan berbagi cerita-cerita dengan saudara-saudara yang tidak berkesempatan ikut.
Sungguh perjalanan yang luar biasa, Semoga ada kesempatan untuk kembali kesana lagi.

Ditulis oleh Zola Anjelia Putri, Raff 382 Ncc
Disunting oleh Kedhy Lavandino, Raff 379 Hmn

©2016_SMEI_KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

 

 

Saat Si Hijau Sudah Berubah Menjadi Hitam

Saat bernafas saat ini, kita mungkin tak merasakan ada hal yang janggal dengan udara yang kita hirup. Tetapi apakah kita tak merasa kalau sekarang kita semua berada dalam ruangan yang dipenuhi dengan asap?

01

Gambar 1. Peta sebaran titik hotspot di Riau

          Sekitar 1 September 2015 yang lalu, kabut asap tebal mulai memberikan dampaknya, terutama bagi penduduk kota Pekanbaru. Jarak pandang tak sampai 300 meter! Coba kita bayangkan betapa hampanya kehidupan disana. Bahkan kabut asap tersebut juga sudah mulai terasa memasuki rumah-rumah penduduk dan perlahan mulai mengganggu kesehatan penduduk Pekanbaru. Beberapa penduduk ada yang protes mengenai lambatnya pemerintah kota membuat keputusan agar segera meliburkan kegiatan belajar mengajar karena rentannya anak-anak untuk terkena ganggung pernafasan.

          Semakin hari asap kian menebal hingga menurunkan jarak pandang menjadi 200 meter dan papan ISPU menunjukkan kualitas udara “tidak sehat”. Beberapa penduduk yang rumahnya telah banyak dimasuki kabut asap mengambil tindakan cepat dengan menginap di hotel karena sudah tidak tahan dengan gejala pusing, tenggorokan sakit saat menelan air liur dan mata perih yang diakibatkan kabut asap tersebut.

Gambar 2,3,4 & 5. Suasana Kota Pekanbaru yang tengah dilanda kabut asap (Sumber: blog.act.id)

          Koalisi Penyelamat Sumber Daya Alam (PSDA) Riau, menyebut data hotspot Jikalahari sepanjang Januari-Agustus 2015 menunjukkan, total 5.869 titik api di lahan HTI (Hutan Tanaman Industri), sawit dan hutan lindung. Semua itu, di lahan gambut.  Dari 5.860 hotspot 4057 di gambut. “Artinya karhutla di konsesi HTI dan sawit serta di kawasan konservasi yang dirambah dan diokupasi cukong sawit,” kata Woro Supartinah dari Jikalahari. Hari itu, Koalisi merilis laporan berjudul “Menuntaskan Asap Riau, Melalui GN-PSDA KPK” di sebuah hotel. Saat acara, asap masuk ke lobi hotel.

Menurut Koalisi, kala deforestasi-degradasi terstruktur, sistematis dan masif di Riau melalui produk hukum menguntungkan korporasi, (KPK) berupaya menghentikan praktik-praktik ini melalui Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GN-PSDA). Dalam GN-PSDA, Pemda Riau harus menyelesaikan pengukuhan: kawasan hutan, penataan ruang dan wilayah administrasi, penataan perizinan kehutanan dan perkebunan, dan perluasan wilayah kelola masyarakat. Lalu, penyelesaian konflik kawasan hutan, penguatan instrumen lingkungan hidup dalam perlindungan hutan dan membangun sistem pengendalian anti korupsi.

Seperti itulah gambaran betapa berbahayanya kabut asap di Riau yang diawali dari sifat egois. Kita tak akan mengetahui apa yang ada di dalam hutan belantara sana sampai akhirnya kita sadar bahwa mereka telah hilang dan seberapa pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan hidup kita. Bersyukurlah kita menjalani kegiatan di daerah sekitar perbukitan yang memiliki banyak pepohonan sehingga dampak dari kabut asap tidak begitu terasa. Tetap semangat dan tetap berjaga-jaga dan pakailah masker jika berkegiatan di luar ruangan. Ingatlah selalu jika alam tak akan memberi ampun jika perasaan kita untuk melestarikannya sudah hilang.

Jadi, mana yang lebih pantas? Mereka menjadi “hijau” atau mereka menjadi “hitam”??????

Salam Lestari!..

Sumber: Disunting dari gagasanriau.com

©2015_Humas_KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

Miris, Kakatua Diselundupkan Dalam Botol Plastik

001

“Buta hati lebih membahayakan daripada buta mata, jangan biarkan nafsu sementara membuat hati kita buta selamanya.”

Sebanyak 24 kakatua jambul kuning gagal diselundupkan ke Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, setelah polisi dari Polres Pelabuhan Tanjungperak Surabaya mencurigai pelaku yang baru turun dari kapal KM Tidar jurusan Papua-Makassar-Surabaya-Jakarta, pada Senin (04/05/2015). Kasubbag Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya AKP Lily Djafar mengatakan, penangkapan pelaku penyelundupan kakatua ini setelah petugas kepolisian mendapati penumpang yang membawa 2 ekor burung yaitu kakatua jambul kuning dan bayan hijau, dengan dimasukkan ke dalam botol air mineral. Setelah diinterogasi dan dilakukan pencarian, akhirnya ditemukan 22 ekor lainnya di atas kapal dalam kondisi di masukkan dalam botol air mineral. “Waktu kami tangkap ada yang hidup dan ada yang setengah mati, mungkin karena perjalanan 5 hari dari Papua dan Maluku Utara dan burung-burung itu disekap dalam botol air mineral,” kata Lily kepada Mongabay-Indonesia.

002

Burung kakaktua jambul kuning diselundupkan dalam botol plastik air minum diamankan petugas dari Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto: Petrus Riski

 Penangkapan pelaku penyelundupan satwa melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini merupakan yang ketiga dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya Polres Pelabuhan Tanjung Perak juga menggagalkan penyelundupan satwa yang dimasukkan dalam pipa paralon. “Pelaku yang juga penumpang atas nama Mulyono, kita masih kembangkan kasus ini untuk mencari kemungkinan keterlibatan ABK atau yang lainnya, kalau terkait kami akan panggil juga untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Kepada polisi Mulyono yang berasal dari Mojokerto, mengaku mendapatkan dua burung yang dibawanya dari seorang teman di Ambon, dan akan memeliharanya sesampai di rumah. Sedangkan 22 burung yang ditemukan di atas kapal tidak diakui Mulyono sebagai miliknya. “Tersangka dijerat dengan pasal 21 ayat 2 huruf a jo pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Juga akan dijerat dengan pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar,” tutur Lily.

003

Pelaku diinterogasi polisi dengan barang bukti burung kakaktua dalam botol plastik air minum. Foto : Petrus Riski

 Saat ini barang bukti berupa burung kakatua jambul kuning telah diserahkan ke BKSDA Jawa Timur, untuk dilakukan penyelamatan terhadap satwa yang masih hidup. Polres Pelabuhan Tanjung Perak kata Lily, sedang berkoordinasi dengan Kepolisian tempat asal pengiriman burung ini agar memperketat pengawasan, untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. “Disini ada X-Ray, tapi untuk barang-barang penumpang yang akan naik. Kalau barang penumpang yang turun tidak ada X-Ray, jadi itu karena kejelian anggota kami saja yang ada di lapangan,” imbuh Lily.

 Lemahnya Pengawasan

Lembaga Protection of Forest & Fauna (Profauna) menilai masih maraknya penyelundupan satwa liar dilindungi melalui pelabuhan, merupakan bukti masih lemahnya pengawasan dan pengamanan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Kontrol terhadap penumpang khususnya barang yang dibawa harus diperketat, terutama pada pelabuhan tempat asal pengiriman satwa, seperti Papua dan Maluku. “Kami mendesak otoritas pelabuhan di Papua, Maluku dan Maluku Utara untuk memperketat  kontrol terhadap penumpang di kapal, yang membawa barang yang diduga berisi satwa liar. Kami minta semua jenis satwa liar apapun itu harus ditolak. Kalau tidak ditolak, maka akan selalu terjadi penyelundupan,” papar Rosek Nursahid, Pendiri dan Ketua ProFauna.

Selain mendesak pengetatan pengawasan oleh otoritas pelabuhan, Rosek juga meminta Kementerian Perhubungan untuk mengeluarkan peraturan berupa surat edaran kepada semua pengusaha transportasi umum, seperti kapal laut, kereta api, dan bus umum, untuk melarang atau menolak penumpang yang membawa satwa liar. “Pengangkutan satwa kebanyakan menggunakan transportasi umum, seperti bus, kapal, dan kereta api, tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi. Kalau tidak melibatkan Kementerian atau Dinas Perhubungan di daerah, kami khawatir upaya penyelundupan ini akan terus terjadi dan lebih parah lagi,” ungkapnya.

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menurut catatan ProFauna merupakan salah satu jalur penting, dalam rantai perdagangan burung nuri dan kakatua asal Papua dan Maluku Utara. Dalam 5 bulan terakhir sudah terungkap 5 kali upaya penyelundupan satwa liar lewat Pelabuhan Tanjung Perak. Sebagian besar burung yang diselundupkan dari Indonesia timur ke Jawa, melewati pelabuhan Tanjung Perak yang kemudian didistribusikan ke jaringan perdagangan satwa di Surabaya, Malang, Jember, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. “Pola dan metode itu sudah terjadi sejak 2002, dan ternyata tidak banyak berubah hingga 2015. Hal ini menunjukan masih lemahnya pengawasan di pelabuhan tempat asal burung tersebut,” tukas Rosek. Selain sarat kekejaman terhadap satwa, upaya penyelundupan seperti itu rawan mengakibatkan satwa mati. Profauna memperkirakan 40 persen satwa yang diperdagangkan dengan metode pengangkutan seperti itu pada akhirnya mati.

ProFauna lanjut Rosek juga menagih kembali komitmen Panglima TNI yang pernah menjanjikan akan melarang prajurit TNI untuk mengangkut, membawa atau pun memelihara satwa yang berasal dari Indonesia bagian timur. “Kakatua dan nuri disana itu banyak yang dibeli oleh pejabat, baik pemerintah maupun militer, ini kenyataan yang masih terjadi. Kami menagih komitmen Panglima TNI,” pungkas Rosek.

 

Tanggapan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan?

Modus penyelundupan satwa liar kini tak lagi memandang keselamatan satwa yang diselundupkan, Bu Siti Nurbaya sebagai Menteri LH dan Kehutanan juga mengatakan akan meminta kepada Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) untuk bekerja sama dengan Polda untuk mengejar pelaku sampai ke Jakarta di mana jaringannya diperkirakan berada. Karena perdagangan satwa ilegal ini sudah luar biasa. MenLH dan Kehutanan juga meminta kepada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), SPORC dan unit-unit konservasi (BKSDA) untuk ‘menyisir’ warga yang memiliki satwa langka dilindungi seperti kakak tua jambul kuning ini. Pendekatan dilakukan secara persuasif tetapi harus hati-hati sekali mengajak kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan kakatua agar dikembalikan ke alam liar.

Penanganan menyangkut tanaman dan satwa dilindungi (TSL) harus ada langkah-langkah pembenahan. Misalnya seperti kakatua jambul kuning yang dilindungi guna menopang sistem kehidupan. KLHK juga membuka posko pelaporan agar masyarakat lebih terbuka dalam pelaporan kasus penyelundupan satwa liar khususnya kakatua jambul-kuning ini. Penegakan hukum TSL tak akan memberikan efek jera karena masih sangat ringan. UU No. 5 Tahun 1990, sanksinya masih ringan dari rata-rata 39 kasus dalam 10 tahun, putusan hakim tidak lebih dari delapan bulan, sangat ringan bukan untuk kasus penyelundupan satwa liar ataupun dilindungi? Berdasarka masalah tersebut, kemungkinan UU ini akan dikaji untuk direvisi.

Sumber : mongabay.co.id

#RaffBerbagi

 #SAVE_SI_JAMBUL_KUNING